Tahun 2012 ini, Polandia Ukraina menjadi tempat perhelatan Piala Eropa (Euro), kompetisi sepak bola paling akbar antarne gara di Benua Biru itu. Pertarungan antarjawara telah lolos babak kualifikasi. Pesta sepak bola hanya terjadi empat tahun sekali di Benua Eropa.
Para suporter dari seluruh penjuru Eropa
berbondong-bondong menuju satu titik di mana kompetisi itu dihelat untuk
mendukung timnas mereka bahkan tidak sedikit juga suporter luar
Eropa–dari seluruh penjuru dunia-yang ikut nimbrung untuk mendukung tim
kesayangan atau untuk sekadar menyaksikan pertandingan menuju puncak
tertinggi kejuaraan tersebut. Eropa saat ini menjadi “surga“ bagi para
pesepak bola profesional. Hal ini tidak terlepas dari “nikmat-nikmat
surga dunia“ yang mereka dapatkan sebagai “balasan“ atas apa yang mereka
tunjukkan di atas lapangan.
Berangkat dari hal ini, banyak dari para
pesepak bola seantero planet Bumi ini yang tergiur dengan iming-iming
tersebut. Gaji selangit, popularitas, karier, dan hal-hal yang mampu
membuat manusia seperti mabuk kepayang bisa mereka dapatkan hanya dengan
bermodalkan keahlian dalam mengolah bola.
Apalagi setelah banyak bukti nyata dari
para senior mereka yang telah lebih dulu terjun ke dalamnya yang mampu
memperbaiki taraf hidup. Olahraga yang dulu hanya sekadar hiburan, kini
telah menjadi industri. Pemain yang dulunya sangat miskin menjadi sangat
kaya, dari anak jalanan menjadi anak gedongan, dari hidup yang penuh
masalah kesederhanaan kini menjadi glamor dengan gelimang harta benda
yang supermewah. Praktis hal ini semakin membuat para pesepak bola di
luar benua tersebut iri dan kepincut untuk mengikuti jejak mereka.
Piala eropa yang dihelat Juni-Juli ini telah sukses mencuri perhatian dunia.
Kompetisi yang merupakan ajang terbesar kedua setelah Piala Dunia mampu menyedot perhatian besar masyarakat. Kompetisi ini mampu mengalahkan kompetisi dari benua lainnya.
Kompetisi yang merupakan ajang terbesar kedua setelah Piala Dunia mampu menyedot perhatian besar masyarakat. Kompetisi ini mampu mengalahkan kompetisi dari benua lainnya.
Hal ini, menurut penulis, adalah imbas
dari banyaknya pesepak bola-pesepak bola top yang membanjiri dan merata
di daratan Eropa. Disamping pengaruh image yang sudah terpatri di
pikiran masyarakat bahwa liga-liga di benua Eropa adalah liga-liga yang
berkualitas. Karena itu, banyak pesepak bola dari berbagai negara
berebut untuk bisa bermain di liga Eropa, seperti Liga Primer Inggris,
La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman, Eredivisie Belanda, Liga Prancis,
dan lainnya.
Bak sebuah keniscayaan bahwa
pertandingan-pertandingan Piala Eropa selalu banyak disaksikan bahkan
secara langsung maupun siaran tunda. Perhelatan Piala Eropa menjadi
salah satu bentuk euforia tim yang telah lolos babak kualifikasi, yang
klimaksnya adalah ketika salah satu tim berhasil menjuarai turnamen
tersebut. Ketika hal itu terjadi maka atmosfer klimaks euforia itu tidak
hanya terasa di Polandia-Ukraina tempat final Euro akan digelar saja,
namun juga di negara tempat jawara itu berasal dan di penjuru dunia yang
turut mendukung tim jawara.
Sepak bola pada masa kini menjelma
menjadi salah satu olahraga yang paling populer dan digandrungi hampir
seluruh penduduk Bumi. Di antara mereka ada yang terpengaruh oleh
sekelilingnya, ada juga yang memang penikmat dan pecinta olahraga ini.
Dan, ada pula yang hanya sekadar ikut-ikutan daripada menjadi orang
asing di lingkungan sendiri. Situasi seperti ini dimanfaatkan dengan
baik oleh orang-orang yang melek dan memiliki kepekaan tinggi dalam hal
bisnis. Karena banyaknya demand, otomatis supply juga akan diperbanyak
dan profit akan terus menanjak sehingga hal ini menjadi lahan penghasil
uang bagi mereka.
Lagi-lagi, penulis ingin berandaiandai
dengan menggambarkan sepak bola sebagai “agama baru“ yang muncul di muka
bumi. Dalam “agama“ ini, tim-tim sepak bola menjadi sekte-sekte atau
aliran-alirannya, pelatih tim berperan sebagai kiai atau pasturnya,
asisten pelatih dan staf sebagai ustaz atau biarawannya, para pemain
yang dilatih sebagai santri atau muridnya, fans sebagai pengikut
aliran-aliran tersebut.
Holligan, Ultras, dan sebutan lain untuk
suporter fanatik diandaikan sebagai pengikut garis kerasnya, lapangan
sebagai tempat ibadahnya. “Agama“ ini menyerukan kekompakan, persatuan,
dan menihilkan perbedaan walaupun pada praktiknya banyak sekali kasus
yang terkait individualisme, perselisihan, dan rasisme.
Di dalamnya juga terdapat perintah dan
larangan yang apabila dilanggar akan mendatangkan hukuman atau balasan,
seperti perintah untuk berdisiplin dalam latihan yang apabila tidak
dikerjakan akan mendatangkan “dosa“ yang berakibat pada hukuman berupa
skors atau tidak dimainkan. Dan, seperti larangan untuk melakukan tackle
keras yang bila dilakukan akan mendapatkan ganjaran berupa kartu
peringatan.
Sepak bola bagaikan “agama“ unik yang
statistik jumlah penganutnya terus meningkat yang terdiri dari berbagai
agama dan elemen masyarakat, “agama“ yang menghibur dan menyenangkan
para pecintanya. Bahkan, bisa membuat para suporter yang fanatik lupa
akan kewajiban-kewajiban agamanya. ●
Euro, Euforia, Eureka
Agus Luthfi Rohman ; Mahasiswa Pascasarjana IAIN Sunan Ampel,
Alumnus Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo
Sumber : REPUBLIKA, 20 Juni 2012
Agus Luthfi Rohman ; Mahasiswa Pascasarjana IAIN Sunan Ampel,
Alumnus Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo
Sumber : REPUBLIKA, 20 Juni 2012

No comments:
Post a Comment